LAPORAN PRAKTIKUM
APLIKASI MIKROBIOLOGI KEAMANAN PANGAN
METODE HITUNGAN CAWAN
(PERHITUNGAN TOTAL BAKTERI)
OLEH:
KELOMPOK I (SATU)
NURAIDAH
KHUSNUL KHATIMAH YASIN
NUR AZIZAH AMIN
JOHN FISHER EMA WITAK MASSORA
SURYA AZHAR AKBAR
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN BIOTEKNOLOGI PANGAN
PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mikroorganisme merupakan mahluk hidup yang sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Mikroorganisme dapat tumbuh dimana-mana misalnya di dalam air, tanah, udara, tanaman hewan dan manusia. Mikroba itu sendiri terdiri dari berbagai jenis dan bentuk dimana setiap jenis tumbuh pada medium yang berbeda sesuai kebutuhan akan zat makanan.
Mikroorganisme yang akan diisolasi dapat berupa biakan murni atau populasi campuran. Jika biakan yang akan diidentifikasi ini tercemar, maka perlu diadakan pemurnian terlebih dahulu. Lazimnya permukaan dilakukan dengan cara menggores suspensi, mikroba yang akan diisolasi pada agar lempengan. Pewarnaan juga dilakukan untuk melihat bentuk-bentuk sel bakteri.
MPN merupakan metode enumerasi mikroorganisme yang menggunakan data hasil pertumbuhan mikroorganisme pada medium cair spesifik dalam seri tabungan yang ditanam pada sampel padat atau cair. Sifat bahan dari suatu mikroba yang akan ditempati memelihara bakteri mengandung komponen-komponen yang dibutuhkan oleh bakteri sehingga dapat tumbuh dengan baik. Biasanya mikroba harus benar-benar dengan penuh ketelitian. Oleh karena itu, praktikum ini dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana cara menghitung mikroba, metode pewarnaan sederhana, negative dan gram dan MPN yang menggunakan data hasil pertumbuhan mikroorganisme pada medium cair spesifik dalam seri tabungan yang ditanam pada sampel padat atau cair.
B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menghitung jumlah koloni bakteri menggunakan metode hitungan cawan.
2. Untuk mengetahui teknik penggoresan pada cawan
3. Untuk melihat bentuk-bentuk sel bakteri dan memberikan warna pada bakteri sehingga bentuk sel dapat terlihat jelas.
4. Untuk mengetahui data hasil pertumbuhan mikroorganisme pada medium cair spesifik dalam seri tabungan yang ditanam pada sampel padat atau cair.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Bakteri dapat ditumbuhkan dalam suatu media steril, sejumlah sel-sel inokulum dipindahkan (diinokulasi) ke dalam media dengan perlakuan khusus untuk mempertahankan biakan. Pada waktu inokulasi, jarum yang digunakan dalam memindahkan mikroba harus jarum yang telah dipijarkan di atas api. Pemanasan ini menghancurkan setiap bentuk kehidupan yang ada pada permukaan jarum atau alat pengoles. Setelah diinkubasi, biakan bakteri disimpan atau diinkubasi dalam suatu lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhannya. Pertumbuhan disini berarti pengembangan populasi sel-sel dari beberapa sel. Kumpulan dari anak-anak sel akan tampak dengan mata telanjang sebagai suatu populasi yang terpisah yang disebut dengan koloni pada media padat. Bentuk pertumbuhan merupakan salah satu cara untuk membedakan spesies-spesies mikroba. Seperti semua bentuk kehidupan yang lain, mikroba juga membutuhkan zat-zat hara dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhannya (Sutedjo, dkk, 1991).
Masalah yang terjadi ketika melakukan isolasi adalah tidak memanfaatkan permukaan medium dengan sebaik-baiknya untuk digores dikarenakan yang melakukan isolasi mikroba belum terampil, sehingga pengenceran mikroorganisme menjadi kurang lanjut dan cenderung menggunakan inokulum terlalu banyak sehingga menyulitkan pemisahan sel-sel yang digoreskan, akibatnya mikroba yang tumbuh pada media tersebut bertumpuk pada satu tempat yang menyebabkan mikroba sulit untuk diidentifikasi (Sandjaja, 1992).
Isolasi dengan menggunakan metode penggesekan atau metode gores banyak digunakan karena tidak banyak memakan waktu meskipun cara ini menyebabkan bakteri anaerob tidak dapat tumbuh. Jika ujung kawat inokulasi dibengkokkan, kemudian ujung itu setelah disentuhkan suatu koloni lalu digesekkan pada permukaan medium padat, maka beberapa waktu kemudian akan tampak koloni-koloni yang letaknya tersebar dipermukaan medium. Jika diadakan pemindahan sampel dari suatu koloni yang letaknya terpencil, maka akan diperoleh suatu piaraan murni. Pernapasan bakteri aerob dapat menggunakan glukosa atau zat organik lain sebagai substrat untuk dioksidasi. Bakteri dikelompokkan berdasarkan kebutuhan oksigennya yaitu aerob dan anaerob. Dimana, bakteri aerob, adalah bakteri yang memerlukan oksigen dengan cara menggunakan senyawa organic sebagai substrat untuk dioksidasi. Sedangkan untuk bakteri anaerob adalah bakteri yang tidak memerlukan oksigen dalam pernapasannya. Namun ada banyak spesies bakteri yang mampu mengadakan pernapasan tanpa adanya oksigen (Dwijoseputro, 2005).
Prinsip dari metode hitungan cawan adalah menumbuhkan sel mikrobia yang masih hidup pada metode agar, sehingga sel mikrobia tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop (Fardiaz,1993).
Metode hitungan cawan dapat dibedakan atas dua cara yaitu
Metode tuang (pour plate) Metode permukaan (surface / spread plate) Pada perhitungan menggunakan metode cawan, diperlukan suatu pengenceran agar jumlah koloni mikrobia yang ada pada cawan dapat dihitung dan sesuai standar, yaitu berjumlah 30 – 300 per cawan. Pengenceran dilakukan secara decimal untuk memudahkan perhitungan. Cara menghitung koloni pada cawan adalah
Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 sampai 300. Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan suatu kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloninya diragukan, dapat dihitung sebagai satu koloni.suatu deretan (rantai) kolini yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni. Sedangkan data SPC harus mengikuti peraturan sebagai berikut Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka, yaitu angka pertama dibelakang koma dan angkan kedua dibelakang koma. Jika angka ketiga sama dengan atau lebih besar dari 5, harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua. Jika semua pengenceran yang dibuat untuk menanam menghasilkan angka kurang dari 30 pada cawan petri, hanya jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan. Jika semua pengenceran yang dibuat untuk menanam menghasilkan angka lebih besar dari 300 pada cawan petri, hanya jumlah koloni pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai lebih dari 300 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan. Jika cawan dari dua tingkat pengenceran menghasilkan koloni dengan jumlah antara 30 dan 300, dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih kecil atau sama dengan 2, yang digunakan adalaha rata-ratanya. Jika perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih besar dari 2, yang dilaporkan hanya hasil terkecil.
Jika digunakan dua cawan Petri (duplo) per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, meskipun salah satunya tidak memenuhi syarat diantara 30 dan 300. Pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada cawan petri berarti pengenceran rendah, oleh karena itu jumlah koloni pada pengenceran tertinggi yang diambil. (Dwijoseputro, 2005).
Metode tuang (pour plate) Metode permukaan (surface / spread plate) Pada perhitungan menggunakan metode cawan, diperlukan suatu pengenceran agar jumlah koloni mikrobia yang ada pada cawan dapat dihitung dan sesuai standar, yaitu berjumlah 30 – 300 per cawan. Pengenceran dilakukan secara decimal untuk memudahkan perhitungan. Cara menghitung koloni pada cawan adalah
Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 sampai 300. Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan suatu kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloninya diragukan, dapat dihitung sebagai satu koloni.suatu deretan (rantai) kolini yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni. Sedangkan data SPC harus mengikuti peraturan sebagai berikut Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka, yaitu angka pertama dibelakang koma dan angkan kedua dibelakang koma. Jika angka ketiga sama dengan atau lebih besar dari 5, harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua. Jika semua pengenceran yang dibuat untuk menanam menghasilkan angka kurang dari 30 pada cawan petri, hanya jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan. Jika semua pengenceran yang dibuat untuk menanam menghasilkan angka lebih besar dari 300 pada cawan petri, hanya jumlah koloni pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai lebih dari 300 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan. Jika cawan dari dua tingkat pengenceran menghasilkan koloni dengan jumlah antara 30 dan 300, dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih kecil atau sama dengan 2, yang digunakan adalaha rata-ratanya. Jika perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih besar dari 2, yang dilaporkan hanya hasil terkecil.
Jika digunakan dua cawan Petri (duplo) per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, meskipun salah satunya tidak memenuhi syarat diantara 30 dan 300. Pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada cawan petri berarti pengenceran rendah, oleh karena itu jumlah koloni pada pengenceran tertinggi yang diambil. (Dwijoseputro, 2005).
Koloni adalah kumpulan dari mikrobia yang memilki kesamaan sifat-sifat seperti bentuk, susunan, permukaan, dan sebagainya. Sifat-sifat yang perlu diperhatikan pada koloni yang tumbuh di permukaan medium adalah (Dwidjoseputro, 1978), Besar kecilnya koloni. Ada koloni yang hanya serupa suatu titik, namun ada pula yang melebar sampai menutup permukaan medium.
Bentuk. Ada koloni yang bulat, ada yang memanjang. Ada yang tepinya rata, ada yang tidak rata. Kenaikan permukaan. Ada koloni yang rata saja dengan permukaan medium, ada pula yang timbul yaitu menjulang tebal di atas permukaan medium.
Halus kasarnya permukaan. Ada koloni yang permukaannya halus, ada yang permukaannya kasar dan tidak rata. Wajah permukaan. Ada koloni yang permukaannya mengkilat, ada yang permukaannya suram. Warna. Kebanyakan koloni bakteri berwarna keputihan atau kekuningan. Kepekatan. Ada koloni yang lunak seperti lendir, ada yang keras dan kering (Dwidjoseputro, 1978).
Bentuk. Ada koloni yang bulat, ada yang memanjang. Ada yang tepinya rata, ada yang tidak rata. Kenaikan permukaan. Ada koloni yang rata saja dengan permukaan medium, ada pula yang timbul yaitu menjulang tebal di atas permukaan medium.
Halus kasarnya permukaan. Ada koloni yang permukaannya halus, ada yang permukaannya kasar dan tidak rata. Wajah permukaan. Ada koloni yang permukaannya mengkilat, ada yang permukaannya suram. Warna. Kebanyakan koloni bakteri berwarna keputihan atau kekuningan. Kepekatan. Ada koloni yang lunak seperti lendir, ada yang keras dan kering (Dwidjoseputro, 1978).
Kisaran hitung seperti yang sampai saat ini diketahui bahwa kisaran yang paling tepat dalam menghitung koloni pada cawan adalah 30-300 koloni/cawan atau 25-250 koloni/cawan. Permulaan penentuan kisaran ini berawal dari seorang mikrobiologiwan bernama Nersser (1895) yang menyimpulkan bahwa hitungan cawan yang paling baik adalah cawan yang memiliki 10.000 koloni/cawan yang perhitungannya dilakukan dengan mikroskop pada perbesaran rendah. Tiga tahun kemudian muncul pernyataan bahwa cawan yang mempunyai koloni lebih dari 100 koloni/cawan sebaiknya diabaikan. Selanjutnya pada tahun 1897, Hill menyarankan untuk tidak menghitung cawan yang terlalu banyak jumlah koloninya (overcrowded) karena tidak memberikan hasil yang sesuai dengan kenyataan. Kemudian tahun 1908, orang yang sama menyimpulkan tentang kisaran hitung 40-200 koloni/cawan yang digunakan sebagai landasan pelaporan. Kisaran ini diterima pada Comitee Standard Method of Bacteriology Water Analysis (1915) dan diubah menjadi 30-200 koloni/cawan. Pencetus kisaran hitung 25-250 koloni/cawan dikemukakan oleh Breed dan Dotterrer pada tahun 1916 yang mempublikasikan dalam seminarnya mengenai topik ini. Mereka menentukan kisaran ini berdasarkan alasan supaya hasil perhitungannya tidak menimbulkan kesalahan statistik yang serius. Mereka juga mencatat bahwa jenis bakteri dapat mempengaruhi ukuran koloni dan jumlah koloni yang tumbuh pada cawan. Selain itu komposisi nutrisi dan jarak antar koloni juga mempengaruhi jumlah koloni per cawan karena koloni tetangga mungkin dapat menghambat pertumbuhan atau menstimulus koloni didekatnya (seperti B. bulgaricus yang distimulus oleh adanya molds). Breed dan Dotterrer memakai tiga kali plating tiap pengenceran (triplicate plating) dalam percobaanya dan memilih cawan yang masuk kisaran dari tiap pengenceran. Pada analisa ini cawan yang memiliki jumlah koloni 400 dianggap tidak memenuhi syarat, sedangkan cawan yang memenuhi syarat itu sendiri berjumlah antara 50 dan 200 koloni/cawan. Pencetus lainnya adalah Tomasiewicz (1980) yang menyimpulkan bahwa kisaran hitung untuk plate count dengan ulangan 3 kali (triplicate) yaitu 25-250 koloni/cawan. Kesimpulan ini didapat dari data analisa susu (raw milk) pada tiga eksperimen yang berbeda. USP (United States Pharmacopoeial) merekomendasikan untuk menggunakan kisaran hitung antara 25 dan 250 koloni/cawan untuk bakteri pada umumnya dan Candida albicans. Sedangkan kisaran yang disarankan jika menganalisa jumlah Aspergillus niger adalah 8-80 koloni/cawan. ASTM (American Standard Testing and Methods) menyarankan untuk menggunakan kisaran hitung 20-80 koloni/membran jika menggunakan teknik filtrasi membran, 20-200 koloni/cawan untuk spread plate dan 30-300 koloni/cawan untuk pour plate. FDA BAM (Food and Drug Administration, Bacteriological Analytical Manual) merekomendasikan 25-250 koloni/cawan sebagai kisaran hitung secara keseluruhan.(Anonim, 2010a)
III. METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 17 Maret 2011, pukul 11.00-17.00 WITA di Laboratorium Mikrobiologi Pangan, Program Studi Ilmu dan teknologi Pangan, jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
B. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut ;
- Inkubator - tabung reaksi
- laminar flow - jarum oase
- cawan petri - pipet volume
Bahan- bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
- nutrient agar - nasi basi
- agar - ikan
- salmonella shigella agar - touge
- NaCl 0,85% - alkohol
- aquades
C. Prosedur Praktikum
Prosedur kerja pada praktikum ini adalah :
1. Media Na 400 mL (23 g/L)
- Timbang media Na sebanyak 9,2 gram
- Tambahkan 400 mL aquades
- Kemudian tambahkan 0,184 agar (2% agar)
2. Media SS agar 50 mL (60 g/L)
- Timbang media SS agar sebanyak 3 gram
- Tambahkan 50 mL aquades
3. Larutan pengencer 0,85% NaCL 500 mL
- Timbang NaCl 4,25 gram
- Tambahkan 500 mL aquades
4. Pour Plate
- Masukkan larutan pengencer (larutan 0,85% NaCl) kedalam tabung reaksi sebanyak 9 mL
- Timbang sampel 1 gram kemudian masukkan dalam tabung reaksi yang berisi larutan pengencer
- Homogenkan menggunakan vorteks
- Lakukan pengenceran hingga 10-3
- Sampel (nasi basi, touge, ikan) sebanyak 1 mL diambil dari pengenceran 10-2 dan 10-3 kemudian dimasukkan dalam cawan petri kosong steril, dimulai dari pengenceran yang terbesar ke pengenceran terendah
- Masukkan media NA atau SS agar cair sebanyak ±15 mL
- Goyangkan di atas meja secara mendatar (membentuk angka 8), kemudian biarkan memadat
- Inkubasikan pada suhu 350C selama 48 jam dengan posisi cawan petri terbalik
5. Surface plate
- Masukkan larutan pengencer (larutan 0,85% NaCl) kedalam tabung reaksi sebanyak 9 mL
- Timbang sampel 1 gram kemudian masukkan dalam tabung reaksi yang berisi larutan pengencer
- Homogenkan menggunakan vorteks
- Lakukan pengenceran hingga 10-3
- Sampel sebanyak 1 mL diambil dari pengenceran 10-2 dan 10-3, kemudian dimasukkan dalam cawan petri yang berisi media NA atau SS agar padat, di mulai dari pengenceran yang terbesar ke pengenceran terendah
- Diratakan dan disebarkan dengan hockey stick
- Dibiarkan ± 5 menit
- Inkubasikan pada suhu 350C selama 48 jam dengan posisi cawan petri terbalik.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil yang diperoleh pada praktikum ini adalah dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 01 Hasil Perhitungan Koloni Pada Beberapa Bahan
| Bahan | Metode Pour Plate | Metode Surpace Plate | ||
| 10-2 | 10-3 | 10-2 | 10-3 | |
| Nasi basi | >520 koloni | 7400 koloni | 68 koloni | TBUD |
| Touge | 500 koloni | 138 koloni | 243 koloni | 341 koloni |
| Ikan | 113 koloni | 19 koloni | 134 koloni | 42 koloni |
Sumber : Data Primer Aplikasi Mikrobiologi Keamanan Pangan, 2011
B. Pembahasan
Tabel di atas memperlihatkan berbagai bentuk koloni yang tumbuh. Jumlah koloni yang tumbuh dalam Nasi basi pada pengenceran 10-2 dan pengenceran 10-3 berturut-turut yaitu 520 koloni ,7400 koloni 68 dan TBUD. Hal ini disebabkan bahwa hasil perhitungan jumlah mikroba dengan metode cawan yaitu lebih dari 300 koloni pada cawan petri berarti pengenceran yang dilakukan terlalu rendah . Hal ini sesuai dengan pendapat Dwijoseputro (2005), bahwa Pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada cawan petri berarti pengenceran rendah, oleh karena itu jumlah koloni pada pengenceran tertinggi yang diambil.
Tabel di atas memperlihatkan berbagai bentuk koloni yang tumbuh. Jumlah koloni yang tumbuh dalam tauge pada pengenceran 10-2 dan pengenceran 10-3 berturut-turut yaitu 500 koloni ,138 koloni, 243 koloni dan 341 koloni. Hasil yang dihasilkan berbeda-beda karena digunakan 2 metode yaitu
Metode tuang (pour plate) Metode permukaan (surface / spread plate) pada perhitungan menggunakan metode cawan, diperlukan suatu pengenceran agar jumlah koloni mikrobia yang ada pada cawan dapat dihitung dan sesuai standar. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwijoseputro (2005), Prinsip perhitungan koloni bakteri adalah semakin tinggi tingkat pengenceran semakin rendah jumlah koloni bakteri. Dengan kata lain tingkat pengenceran berbanding terbalik dengan jumlah koloni bakteri.
Metode tuang (pour plate) Metode permukaan (surface / spread plate) pada perhitungan menggunakan metode cawan, diperlukan suatu pengenceran agar jumlah koloni mikrobia yang ada pada cawan dapat dihitung dan sesuai standar. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwijoseputro (2005), Prinsip perhitungan koloni bakteri adalah semakin tinggi tingkat pengenceran semakin rendah jumlah koloni bakteri. Dengan kata lain tingkat pengenceran berbanding terbalik dengan jumlah koloni bakteri.
Tabel di atas memperlihatkan berbagai bentuk koloni yang tumbuh. Jumlah koloni yang tumbuh dalam ikan pada pengenceran 10-2 dan pengenceran 10-3 berturut-turut yaitu 113 koloni ,19 koloni, 134 koloni dan 42 koloni. Hal ini disebabkan karena dilakukan pengenceran yang terlalu tinggi, oleh karena itu jumlah koloni pada pengenceran terendah yang dihitung. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwijoseputro (2005), bahwa Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 sampai 300 merupakan hasil pengenceran yang tinggi dan laporan perhitungannya diambil yang terendah.
Praktikum kali ini hasil yang didapatkan setelah perhitungan koloni kebanyakan TBUD (tidak bisa untuk dihitung). Hal ini dikarenakan pengenceran yang dilakukan pada praktikum terlalu kecil hanya sampai pada pengenceran 10-3. Hal ini sesuai dengan Fardiaz (1993) yang menyatakan bahwa perhitungan jumlah koloni akan lebih mudah dan cepat jika pengenceran dilakukan secara decimal. Semakin tinggi jumlah mikroba yang terdapat di dalam sample, semakin tinggi pengenceran yang harus dilakukan.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum kali adalah :
1. Pengenceran merupakan salah satu faktor yang penting dalam perhitungan koloni.
2. Metode perhitungan jumlah mikroba dimaksudkan untuk mempermudah dalam perhitungan mikroba tertentu yang sudah terpisah dari mikroba lain.
B. Saran
Sebaiknya proses praktikum dilakukan dengan lebih aseptis untuk mengurangi kontaminan agar data yang didapat lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011a. Media Uji Pemecahan Komponen Makanan oleh Mikroorganisme. http://lordbroken.wordpress.com. Akses pada tanggal 20 April 2011. Makassar.
Anonim, 2011. Laporan Praktikum Perhitungan Mikroba. http://tasyaariesta.wordpress.com. Akses pada tanggal 20 April 2011. Makassar.
Dwijoseputro, D.2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta
Fardiaz, S.1992.Mikrobiologi Pangan 1.Gramedia. Jakarta.
Fardiaz, S. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sandjaya, B, 1992. Isolasi dan Identifikasi Mikrobiologi. Yudika medika .Jakarta.
Sutedjo. 1991. Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta. Jakarta.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Metode penggoresan banyak digunakan Karena tidak banyak memakan waktu meskipun cara ini menyebabkan bakteri anaerob tidak dapat tumbuh. Jika ujung kawat inokulasi dibengkokkan, kemudian ujung itu setelah disentuhkan suatu koloni lalu digesekkan pada permukaan medium padat, maka beberapa waktu kemudian akan tampak koloni-koloni yang letaknya tersebar di permukaan medium. Jika diadakan pemindahan sampel dari suatu koloni yang letaknya terpencil maka akan diperoleh suatu piaraan murni. Pernapasan bakteri aerob dapat menggunakan glukosa atau zat organik lain sebagai substrat untuk dioksidasi. Bakteri dikelompokkan berdasarkan kebutuhan oksigennya yaitu aerob dan anaerob. Dimana bakteri aerob adalah bakteri yang memerlukan oksigen dengan cara menggunakan senyawa organik sebagai substrat untuk dioksidasi. Sedangkan bakteri anaerob adalah bakteri yang tidak memerlukan oksigen dalam pernapasannya. Namun ada banyak spesies bakteri yang mampu mengadakan pernapasan tanpa adanya oksigen (Dwijoseputro, 2005).
Ada beberapa metode penggoresan yang berbeda, namun kesemua metode bertujuan untuk meletakkan sebagian besar organisme pada beberapa goresan pertama dan menyisakan bahan individual yang cukup terpisah ini akan tumbuh menjadi koloni-koloni bakteri yang saling terpisah satu sama lain. Jadi goresan penting untuk digunakan dalam mendapatkan koloni dari sel tunggal yang benar-benar murni (tidak tercampur spesies lain) yang mudah untuk dipindahkan ke medium steril lain yang berfungsi sebagai media biakan murni sel tunggal yang diperoleh. Pada saat menggoreskan bakteri harus menggunakan jarum ose di dalam tabung reaksi dengan agak miring sebagai medianya untuk menumbuhkan suatu mikroba. Metode ini banyak memakan waktu meskipun cara ini menyebabkan bakteri anaerob tidak dapat tumbuh (Anonim, 2010a).
Metode tusuk adalah menusukkan jarum ose pada medium yang sebelumnya telah digoreskan pada suatu koloni. Jika ujung kawat diinokulasi dibengkokkan, kemudian ujung itu setelah disentuhkan suatu koloni lalu digesekkan pada permukaan medium padat, maka beberapa waktu kemudian akan tampak koloni-koloni yang letaknya tersebar di permukaan medium. Jika diadakan pemindahan sampel dari suatu koloni yang letaknya terpencil maka akan diperoleh suatu piaraan murni (Dwijoseputro, 2005).
Teknik Penanaman dengan teknik Goresan (Streak) bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau meremajakan kultur ke dalam medium baru. Ada beberapa teknik goresan yang biasa dipakai yaitu :
Goresan Sinambung, Goresan T, Goresan Kuadran (Streak quadrant)
Prinsip teknik penggoresan yaitu pengenceran dimana goresan pertama paling pekat kemudian menjadi semakin encer sampai pada goresan ke empat yang terletak ditengah-tengah media. Bila metode ini dilakukan dengan baik akan menghasilkan terisolasinya mikroorganisme, dimana setiap koloni berasal dari satu sel (Anonim, 2011b).
Sifat-sifat koloni pada saat dimiringkan akan membentuk tepi koloni berupa pedang, duri, tasbih, titik-titik, batang akar hingga koloni yang tidak terpisah. Sifat koloni tusukan dalam gelatin, tidak dapat diencerkan, koloninya berbentuk jonjot serupa dengan batang (Dwijoseputro, 2005).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Aplikasi Mikrobiologi Keamanan Pangan ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 31 Maret 2011, pukul 11.00 – 17.00, bertempat di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Pangan, Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
B. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali adalah :
- tabung reaksi - cawan petri
- spritus - inkubator
- vorteks - jarum ose
- gelas objek - mikroskop
- laminator - pipet tetes
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
- mikroba - tissue roll
- aquadest - kapas
- alkohol
C. Prosedur Praktikum
- Koloni diambil secara aseptis menggunakan jarum ose, digoreskan pada media agar
- Koloni digoreskan pada media secara hati-hati, agar tidak sampai merusak media. Goresan yang dibuat terdiri dari 8 goresan, tanpa putus (area A)
- Panaskan jarus ose pada bunsen dan dinginkan di udara
- Cawan petri diputar, kemudian gores kembali sebanyak 4 goresan (area B)
- Panaskan jarus ose pada bunsen dan dinginkan di udara
- Cawan petri diputar, kemudian gores kembali sebanyak 4 goresan (area C)
- Cawan petri diputar sekali lagi, kemudian gores sekali lagi (area D)
- Buat goresan hingga mencapai tengah cawan (area E), usakah agar tidak menyentuh inokulum awal pada area A
- Inkubasikan pada suhu 350C selama 48 jam dengan posisi cawan terbalik
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil yang diperoleh pada praktikum kali ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 02 Hasil Pengoresan Mikroba Pada Berbagai Bahan
| No | Bahan | Warna koloni | Hasil pengamatan | |
| | | |||
| 1 | Nasi hampir basi | Koloni tak terpisah | Koloni tak terpisah | Koloni tak terpisah |
| Koloni tak terpisah | Koloni tak terpisah | Koloni tak terpisah | ||
| 2 | Tauge | Koloni tak terpisah | Koloni tak terpisah | Koloni tak terpisah |
| Koloni tak terpisah | Koloni tak terpisah | Koloni tak terpisah | ||
| 3 | Ikan Mentah | Kuning | Terpisah namun belum merata | Terpisah tidak merata |
| Putih | Terpisah tidak merata | Tidak merata terkontam | ||
Sumber : Data Hasil Praktikum Aplikasi Mikrobiologi dan Keamanan Pangan, 2011
B. Pembahasan
Tabel di atas memperlihatkan berbagai bentuk koloni yang tumbuh dari berbagai metode isolasi yang digunakan, baik metode gores maupun metode tusuk, ada koloni tak terpisah, koloni terpisah namun tidak merata dan koloni tidak merata terkontaminasi.koloni ini tergantung dari metode yang digunakan baik metode tusuk maupun metode gores, karena setiap metode memiliki bentuk koloni yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dwijoseputro (2005), bahwa Sifat-sifat koloni pada saat dimiringkan akan membentuk tepi koloni berupa pedang, duri, tasbih, titik-titik, batang akar hingga koloni yang tidak terpisah. Sifat koloni tusukan dalam gelatin, tidak dapat diencerkan, koloninya berbentuk jonjot serupa dengan batang.
Metode penggoresan yang berbeda, namun kesemua metode bertujuan untuk meletakkan sebagian besar organisme pada beberapa goresan pertama dan menyisakan bahan individual yang cukup terpisah ini akan tumbuh menjadi koloni-koloni bakteri yang saling terpisah satu sama lain. Hal ini sesuai dengan Anonim (2010a) bahwa goresan penting untuk digunakan dalam mendapatkan koloni dari sel tunggal yang benar-benar murni (tidak tercampur spesies lain) yang mudah untuk dipindahkan ke medium steril lain yang berfungsi sebagai media biakan murni sel tunggal yang diperoleh. Pada saat menggoreskan bakteri harus menggunakan jarum ose di dalam tabung reaksi dengan agak miring sebagai medianya untuk menumbuhkan suatu mikroba. Metode ini banyak memakan waktu meskipun cara ini menyebabkan bakteri anaerob tidak dapat tumbuh.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum kali adalah :
1. Metode yang digunakan dalam isolasi mikroba yaitu metode gores dan metode tusuk.
2. Metode gores yaitu metode dengan menggunakan jarum ose pada medium untuk menumbuhkan mikroba. Sedangkan metode tusuk yaitu dengan menusukkan jarum ose pada medium yang sebelumnya telah digoreskan pada suatu koloni.
B. Saran

